Blogger Jateng

Ekonomi Kendaraan Listrik: Apakah Kendaraan Listrik Menjadi Lebih Terjangkau bagi Konsumen?

Dalam beberapa tahun terakhir, kendaraan listrik (EV) telah bertransisi dari hal baru yang futuristik menjadi pilihan transportasi utama. Seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan perubahan iklim dan dampak lingkungan dari bahan bakar fosil, banyak konsumen yang mempertimbangkan untuk beralih ke mobil listrik. Namun, ada satu pertanyaan yang masih tersisa: apakah kendaraan listrik menjadi lebih terjangkau bagi konsumen pada umumnya.

Penurunan Harga Produksi Mobil Listrik

Teknologi baterai adalah salah satu pendorong terbesar dalam menurunkan biaya produksi mobil listrik. Baterai lithium-ion, yang menggerakkan sebagian besar mobil listrik, merupakan bagian utama dari harga mobil listrik. Harga rata-rata paket baterai lithium-ion telah menurun dari sekitar $1.200 per kilowatt-jam (kWh) pada tahun 2010 menjadi sekitar $132 per kWh pada tahun 2023, menurut BloombergNEF. Penurunan tajam ini sebagian besar merupakan hasil dari perkembangan teknologi, output yang lebih tinggi, dan skala ekonomi.

sumber: linkedin.com

Dengan harga baterai yang terus menurun, para produsen dapat memproduksi mobil listrik dengan lebih murah dan dengan itu mereka dapat menawarkan pilihan yang lebih layak kepada konsumen. Tesla, General Motors, dan Volkswagen, misalnya, menggelontorkan dana untuk penelitian baterai untuk menurunkan biaya lebih jauh lagi dan meningkatkan kepadatan energi.

Insentif dan Dukungan Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah dan insentif keuangan berdampak besar pada keterjangkauan kendaraan listrik. Di Amerika Serikat, Undang-Undang Pengurangan Inflasi tahun 2022 memperpanjang dan memperluas kredit pajak federal untuk kendaraan listrik: kredit tersebut terbatas pada merek Amerika, dan jumlah kendaraan yang dapat mengklaim kredit ditingkatkan. Konsumen yang memenuhi syarat bisa mendapatkan hingga $7.500 dalam bentuk kredit pajak untuk kendaraan listrik baru dan hingga $4.000 untuk kendaraan bekas yang memenuhi syarat. Negara-negara lain, termasuk Inggris, Jerman, dan Cina, menawarkan insentif serupa, mulai dari subsidi langsung hingga pembebasan pajak dan pengurangan biaya pendaftaran.

Selain insentif keuangan, pemerintah juga menerapkan peraturan emisi yang lebih ketat, sehingga mendorong produsen mobil untuk memprioritaskan produksi kendaraan listrik. Peningkatan fokus pada keberlanjutan ini diharapkan dapat mendorong inovasi dan pengurangan biaya di pasar kendaraan listrik.

Meningkatkan Persaingan dan Ketersediaan Model

Persaingan semakin memanas seiring dengan semakin banyaknya produsen mobil yang masuk ke ranah kendaraan listrik. Baik produsen mobil tradisional maupun pendatang baru menambah penawaran kendaraan listrik mereka. Peningkatan persaingan ini akan menghasilkan lebih banyak variasi model dengan tingkat harga yang berbeda.

Poin harga yang ramah konsumen untuk EV (seperti Chevrolet Bolt, Nissan Leaf, dan Tesla Model 3) memberikan keterjangkauan bagi konsumen dan menyamai harga mobil bertenaga bensin konvensional. Selain itu, para produsen mobil juga sedang berupaya memproduksi kendaraan listrik dalam kategori di luar mobil penumpang, termasuk truk dan SUV, sehingga memperluas daya tarik pasar.

Total Biaya Kepemilikan: Kendaraan listrik vs Kendaraan Bensin

Harga pembelian awal dapat menyesatkan saat membandingkan keterjangkauan dua kendaraan; total biaya kepemilikan atau TCO harus menjadi fokus perhitungan keterjangkauan Anda. Kendaraan listrik umumnya lebih murah untuk dioperasikan dan dirawat daripada kendaraan bermesin pembakaran internal.

Listrik biasanya lebih murah daripada bensin berdasarkan biaya per mil, dan EV membutuhkan lebih sedikit perawatan rutin karena memiliki lebih sedikit bagian yang bergerak. Misalnya, kendaraan listrik tidak memerlukan penggantian oli, perbaikan sistem pembuangan, atau perawatan sistem bahan bakar. Seiring waktu, penghematan ini dapat mengimbangi harga pembelian awal yang lebih tinggi dari kendaraan listrik.

Sebuah studi tahun 2020 oleh Consumer Reports menemukan bahwa pemilik kendaraan listrik dapat menghemat antara $6.000 dan $10.000 untuk biaya bahan bakar dan perawatan selama masa pakai kendaraan dibandingkan dengan mobil bertenaga bensin. Seiring dengan meningkatnya daya tahan baterai dan meluasnya infrastruktur pengisian daya, penghematan ini kemungkinan besar akan semakin meningkat.

Tantangan terhadap Keterjangkauan Kendaraan Listrik

Namun, tren ini tidak datang tanpa tantangan. Biaya produksi telah terdorong lebih tinggi karena beberapa faktor termasuk gangguan rantai pasokan, terutama dalam produksi semikonduktor dan baterai. Selain itu, biaya di muka dari banyak kendaraan listrik tetap lebih tinggi daripada kendaraan bensin yang sebanding, sehingga menjadi tantangan finansial bagi sebagian konsumen.

Ada juga kekhawatiran dengan infrastruktur pengisian daya. Meskipun ada banyak stasiun pengisian daya di daerah perkotaan, stasiun pengisian daya di daerah pedesaan sering kali tidak memiliki fasilitas yang memadai. Perbedaan ini dapat menghalangi calon pembeli kendaraan listrik yang khawatir tentang aksesibilitas opsi pengisian daya.

Jalan di Depan

Berkat kemajuan teknologi baterai, peningkatan kompetisi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung, kendaraan listrik menjadi semakin terjangkau. Dengan harga yang terus turun dan jaringan pengisian daya yang terus berkembang, kendaraan listrik semakin menjadi pilihan yang praktis dan menarik bagi lebih banyak konsumen.

Kesimpulan

Di tahun-tahun mendatang, investasi yang berkelanjutan dalam penelitian, pengurangan lebih lanjut dalam biaya produksi, dan solusi pembiayaan yang inovatif kemungkinan akan mempercepat adopsi kendaraan listrik. Meskipun masih ada tantangan, lintasannya menunjukkan bahwa EV berada di jalur yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga dapat diakses secara ekonomi oleh konsumen pada umumnya.